Jakarta – PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) mencatat laba bersih USD10,81 juta pada medio 2026. Angka tersebut meningkat 23,54 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD8,75 juta.
Pertumbuhan laba tersebut terjadi ketika pendapatan perusahaan mencapai USD270,28 juta, naik 51 persen dibandingkan USD178,95 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sejumlah komponen biaya ikut meningkat. Beban pegawai tercatat USD64,65 juta dari sebelumnya USD57,69 juta. Beban material naik menjadi USD116,65 juta dari USD50,75 juta, sedangkan beban subkontrak mencapai USD41,03 juta dari USD32,33 juta.
Di sisi lain, beban penyusutan turun menjadi USD6,97 juta dari USD9,65 juta. Beban keuangan juga menyusut menjadi USD8,27 juta dari USD9,58 juta.
Dari posisi keuangan, ekuitas GMFI mencapai USD144,62 juta, meningkat dari USD114,56 juta pada akhir 2025. Defisit perusahaan berkurang menjadi USD512,23 juta dari USD523,05 juta.
Total liabilitas tercatat USD681,87 juta, turun dari USD698,41 juta pada akhir 2025. Sementara aset perusahaan meningkat menjadi USD826,49 juta dari USD812,98 juta.
Di pasar saham, harga GMFI ditutup pada level Rp58 pada perdagangan 16 September 2026, turun Rp1 atau 1,69 persen.
Sejak awal 2026, saham GMFI telah turun 21,62 persen atau 16 poin dari posisi Rp74 pada 2 Januari 2026. Dengan harga Rp58, saham GMFI berada Rp8 di atas level Rp50.
Pergerakan tersebut terjadi menjelang kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang akan menghapus batas harga minimum saham Rp50 menjadi Rp1 per saham mulai 28 September 2026.
Pada tanggal yang sama, BEI juga akan mengungkap daftar efek yang dapat ditransaksikan melalui mekanisme short selling. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya pendalaman pasar dan peningkatan likuiditas.


Komentar