News Politik
Beranda » Jokowi Effect? Elektabilitas PSI Tembus 4,3 Persen, Lampaui Demokrat

Jokowi Effect? Elektabilitas PSI Tembus 4,3 Persen, Lampaui Demokrat

JAKARTA — Kehadiran Joko Widodo di Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mulai menjadi perhatian dalam peta politik menuju Pemilu 2029. Dalam survei terbaru Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI), elektabilitas PSI tercatat 4,3 persen dan sedikit berada di atas Partai Demokrat yang memperoleh 4,1 persen.

Hasil tersebut menarik karena sebelumnya sejumlah survei masih menempatkan PSI di bawah angka 4 persen. Pada survei Indonesia Political Opinion (IPO) periode 27 Juli–3 Agustus 2026, misalnya, PSI tercatat 1,9 persen. Saat itu, Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah menyebut aktivitas politik Jokowi belum menunjukkan dampak elektoral yang signifikan terhadap PSI.

Kini, survei LKPI yang dilakukan pada 8–20 September 2026 mencatat angka PSI mencapai 4,3 persen. Survei tersebut melibatkan 1.246 responden di 36 provinsi dengan margin of error sekitar 3,1 persen.

PSI Mulai Masuk Persaingan Partai Senior

Dalam survei LKPI, PSI berada sejajar dengan PAN yang juga memperoleh 4,3 persen. Keduanya berada sedikit di atas Demokrat dengan 4,1 persen.

Sementara di papan atas, Gerindra memperoleh 17,3 persen dan PDIP 16,8 persen. NasDem berada di 7,3 persen, disusul PKB 6,2 persen, Golkar 6,1 persen, dan PKS 5,5 persen.

Dari Tender ke G2G, Strategi Impor Minyak Indonesia Diuji Realitas Pasar

Posisi PSI tersebut menjadi sorotan karena partai yang kini dipimpin Kaesang Pangarep itu sedang membangun struktur organisasi hingga tingkat daerah. Jokowi juga dalam sejumlah kesempatan mulai aktif hadir dalam agenda PSI.

Saat menghadiri Rakorda PSI Kota Bandung pada 26 September 2026, misalnya, Jokowi meminta struktur partai tidak hanya terbentuk secara administratif, tetapi benar-benar bekerja dan hadir di tengah masyarakat.

Dari 1,9 Persen ke 4,3 Persen

Perbandingan dua survei tersebut memperlihatkan adanya perubahan angka elektabilitas PSI.

Pada survei IPO awal Agustus, PSI berada di angka 1,9 persen. Dua bulan kemudian, survei LKPI menempatkan PSI di 4,3 persen.

Kenaikan ini bertepatan dengan semakin terbukanya aktivitas politik Jokowi bersama PSI. Jokowi sebelumnya juga telah menunjukkan kartu tanda anggota PSI di hadapan kader partai dalam agenda di Bandung pada akhir September 2026.

Tebet Sambut Kehadiran The Atjeh Connection, Kuliner Aceh Makin Dekat

Namun, kenaikan tersebut belum dapat secara otomatis disebut sebagai bukti bahwa Jokowi menjadi penyebab meningkatnya elektabilitas PSI. Perbedaan lembaga survei, waktu pengambilan data, metode, serta dinamika politik dapat memengaruhi hasil.

Jokowi Effect Masih Akan Diuji

Menariknya, sebelum hasil LKPI muncul, sejumlah pengamat justru menilai dampak politik Jokowi terhadap PSI belum terlihat signifikan.

Survei Poltracking pada 14–20 Agustus 2026, misalnya, menempatkan PSI pada angka 2,3 persen. Pengamat komunikasi politik M. Jamiluddin Ritonga saat itu menilai kehadiran Jokowi belum memberikan dampak elektoral yang signifikan bagi PSI.

Karena itu, angka 4,3 persen dalam survei LKPI dapat dibaca sebagai sinyal baru dalam perjalanan PSI menuju Pemilu 2029, tetapi belum cukup untuk memastikan seberapa besar pengaruh Jokowi terhadap perubahan tersebut.

Apalagi masih ada 22,5 persen responden LKPI yang belum menentukan pilihan. Artinya, peta dukungan partai politik masih terbuka dan dapat berubah seiring perkembangan politik menuju 2029.

KPK Geledah Kantor Bea Cukai Kudus

Yang jelas, sejak Jokowi semakin terbuka tampil bersama PSI, perhatian terhadap partai tersebut ikut meningkat. Apakah angka 4,3 persen merupakan awal dari konsolidasi elektoral yang lebih besar atau hanya fluktuasi survei, jawabannya akan terlihat dalam pengukuran berikutnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan