Jakarta – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia mulai menimbulkan dampak lintas batas. Asap dari kebakaran di Sumatra dan Kalimantan terpantau bergerak mengikuti arah angin hingga mencapai sejumlah negara Asia Tenggara.
Sedikitnya empat negara terdampak atau berpotensi terdampak sebaran asap tersebut, yakni Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, dan Singapura.
Laporan Kantor Berita Nasional Malaysia, Bernama, menyebut asap dari karhutla di Sumatra dan Kalimantan bergerak menuju Selat Malaka dan Laut Natuna. Pergerakan tersebut meningkatkan potensi terjadinya kabut asap lintas batas yang dapat memengaruhi wilayah Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.
Asap dari titik panas di Kalimantan Barat juga terpantau bergerak ke arah utara hingga memasuki wilayah Sarawak, Malaysia. Kondisi tersebut membuat kualitas udara di sejumlah kawasan Malaysia Timur mengalami penurunan.
Pusat Meteorologi Khusus ASEAN atau ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) turut mendeteksi keberadaan asap lintas batas dengan intensitas sedang di sejumlah wilayah Filipina, termasuk Palawan dan Panay.
Dalam laporan hariannya, ASMC menyebut kepulan asap dengan intensitas sedang hingga tebal terpantau menutupi sejumlah wilayah Kalimantan, Sabah, Sarawak, Brunei Darussalam, hingga Filipina.
“Di tengah kondisi kering yang berkepanjangan, situasi titik panas dan kabut asap diperkirakan akan tetap tinggi di wilayah-wilayah yang rawan kebakaran, disertai risiko berkelanjutan terjadinya kabut asap lintas batas yang parah,” tulis ASMC.
Malaysia Terdampak Kabut Asap
Malaysia menjadi salah satu negara yang lebih dulu merasakan dampak kabut asap dari karhutla Indonesia.
Di Sarawak, kondisi kabut asap sebelumnya membuat pemerintah negara bagian tersebut menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar di sejumlah wilayah. Jabatan Pendidikan Negeri Sarawak menutup sekolah di Kuching, Padawan, Serian, dan Samarahan selama dua hari pada 20 dan 21 Agustus.
Selama sekolah ditutup, pemerintah setempat menerapkan pembelajaran dan pengajaran dari rumah untuk menjaga kegiatan pendidikan tetap berlangsung.
Filipina Mulai Terdampak
Sebaran asap juga telah mencapai Filipina. Langit Manila terlihat berkabut pada Selasa (1/9), dengan asap yang disebut berasal dari kebakaran hutan di Kalimantan dan terbawa angin hingga mencapai sejumlah wilayah Luzon dan Visayas.
Kementerian Kesehatan Filipina kemudian mengimbau masyarakat menggunakan masker N95 dan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Pemerintah setempat memperingatkan bahwa kabut asap membawa campuran partikel halus, debu, dan abu yang dapat berdampak terhadap kesehatan.
“Kabut asap dapat menyebabkan kesulitan bernapas, batuk, nyeri dada, iritasi mata atau mata berair, serta memperburuk penyakit paru-paru seperti asma. Kewaspadaan ekstra diperlukan bagi anak-anak, lanjut usia, serta orang yang memiliki penyakit paru-paru atau jantung sebelumnya,” ungkap Kementerian Kesehatan Filipina pada Selasa (1/9).
Menteri Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Filipina Juan Miguel Cuna mengatakan pemerintah juga menemukan peningkatan konsentrasi polusi udara, terutama partikel halus PM2.5.
“Ada sejumlah wilayah yang mengalami peningkatan kadar polusi udara, terutama PM2.5, akibat kejadian di negara lain saat ini yang terbawa hingga ke sini. Karena itu, kami memantau kondisi tersebut,” kata Cuna pada Selasa (1/9).
Sejumlah wilayah di sekitar Manila, Luzon Tengah, Calabarzon, dan Mimaropa telah dipantau terkait kondisi kabut asap sejak awal pekan.
Kualitas udara di sejumlah wilayah Manila pada 1 September bahkan tercatat berada pada kategori “sangat tidak sehat” hingga “sangat tidak sehat akut”.
Brunei Darussalam Diselimuti Asap
Brunei Darussalam juga mengalami kondisi berkabut asap sejak 18 Agustus 2026. Pada 31 Agustus, jarak pandang di Stasiun Pengamatan Meteorologi Bandara Internasional Brunei dilaporkan turun hingga sekitar 2 kilometer akibat memburuknya kondisi kabut asap.
Peta Kabut Asap Regional ASMC menunjukkan masih terdapat titik panas, terutama di wilayah selatan Pulau Kalimantan. Angin yang bergerak dari arah barat daya kemudian membawa asap menuju bagian utara Kalimantan dan melintasi Brunei.
Kementerian Kesehatan Brunei mengingatkan masyarakat mengenai potensi gangguan kesehatan akibat paparan kabut asap. Dampaknya dapat berupa batuk, iritasi mata, dan hidung berair, serta memperburuk penyakit yang sudah ada, seperti asma, penyakit paru-paru, dan penyakit jantung.
Masyarakat juga diimbau menjaga kebersihan diri, mencuci wajah dan tangan setelah beraktivitas di luar ruangan, serta menggunakan masker. Bagi warga yang memiliki penyakit kronis, pemerintah mengingatkan agar obat tetap dikonsumsi sesuai anjuran dokter.
Singapura Berpotensi Terdampak
Singapura juga berpotensi kembali terkena dampak kabut asap dari Indonesia. National Environment Agency (NEA) Singapura sebelumnya mendeteksi peningkatan aktivitas titik panas di Kalimantan dan Sumatra bagian selatan.
“Kami mengamati peningkatan aktivitas titik panas dan kabut asap pada akhir pekan. Titik panas dan kepulan asap tebal terutama terdeteksi di Kalimantan dan Sumatera bagian selatan,” kata NEA dalam unggahan di Facebook, Senin (24/8).
NEA juga menyebut kepulan asap terpantau di wilayah Riau. Kondisi kering yang berlangsung saat itu dinilai meningkatkan risiko penyebaran asap.
“Dengan angin yang bertiup dari arah selatan atau tenggara, kabut asap berpotensi memengaruhi Singapura secara berkala,” kata NEA, sebagaimana diberitakan Channel News Asia.
Sebaran asap lintas batas ini terjadi ketika sejumlah wilayah Indonesia masih menghadapi kondisi kering dan aktivitas kebakaran. Pergerakan asap sangat dipengaruhi arah dan pola angin, sehingga dampaknya dapat meluas hingga negara-negara di kawasan Asia Tenggara.


Komentar